Jakarta, Kompas -
Dunia masih menantikan perspektif Islam atas demokrasi. Demokrasi
mempunyai nilai sangat universal, tetapi tetap membutuhkan
kontekstualisasi. Apalagi bagi Indonesia yang mayoritas rakyatnya
beragama Islam.
Demikian
dikatakan mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah, Jakarta, Azyumardi Azra pada peluncuran bukunya,
Indonesia, Islam, and Democracy di Kampus UIN, Selasa (26/6). Pada saat
yang bersamaan, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia Saiful
Mujani juga meluncurkan bukunya, berjudul Muslim Demokrat.
"Demokrasi
tak lagi bisa dilihat sebagai hal yang bertentangan atau tidak
bertentangan dengan agama. Bukan berarti demokrasi hendak diagamakan
atau sekuler, tetapi demokrasi membutuhkan kontekstualisasi dalam
kehidupan masyarakat," ujarnya.
Saiful
menambahkan, dimensi yang baik dalam studi komunitas Muslim di
Indonesia, adalah aspek aktif dalam berdemokrasi. Aspek ini merupakan
keterlibatan dalam proses demokrasi yang sangat baik. Untuk dapat
mencapai tahap matang demokrasi, tak hanya aktivisme yang dibutuhkan,
tetapi juga pasivisme.
"Kombinasi
keduanya membuat demokrasi tidak revolusiner, tetapi sebuah proses.
Pasivisme misalnya sikap toleransi. Kalau aspek ini tidak berkembang,
hanya menekankan partisipasi, demokrasi tidak berkembang," ujarnya
lagi.
Peneliti
Daniel Dhakidae, yang membahas buku Saiful, mengatakan, kesimpulan
tentang Indonesia yang penduduk Islamnya toleran merupakan ciri dari
penelitian yang menggunakan pendekatan perilaku. (mam)
|