spacer.png, 0 kB

User Login






Lost Password?
No account yet? Register
Azyumardi Azra
Career Highlights :
  • Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
  • Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta (2007 - sekarang)
  • Deputi Sekretaris Wakil Presiden RI Bidang Kesejahteraan Rakyat (2007 - 2009)
  • Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (dua periode; 1998-2006)
  • Anggota Komite Nasional Sejarah Indonesia (1998 - sekarang)
  • Member of the International Association of Historian of Asia (IAHA) (1998 - sekarang)
  • Professorial Fellow, University of Melbourne (2004-2009)
  • Member of Advisory Board, United Nations Democracy Fund (UNDEF), New York (2006-sekarang)

spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
Home arrow News arrow Latest News arrow Wawancara Republika: Mengapresasi Tradisi Ulama
Wawancara Republika: Mengapresasi Tradisi Ulama Print E-mail
Source: Republika, Wawancara   
Sunday, 06 May 2007

Setelah melepas jabatannya sebagai rektor Universitas Negeri (UIN) Jakarta, tidak berarti aktivitas Prof Dr Azyumardi Azra berkurang. Doktor lulusan Columbia University, Amerika Serikat, ini mendapat tugas mewakili Pemerintah Indonesia di berbagai forum internasional. Tugas itu membuatnya sedikitnya dua kali setahun mesti terbang ke New York dalam dua tahun terakhir. Saat yang hampir bersamaan, ia juga kerap diundang ke Timur Tengah.

Di tengah beragam aktivitas tersebut, tugas baru menghampirinya. Pria kelahiran Lubuk Alung, Sumatra Barat, 4 Maret 1955, ini diminta menjadi deputi sekretaris wakil presiden. Semula ia menjelaskan tugas-tugasnya itu, tapi ia tak bisa menampik amanah itu. `'Saya tidak tahu persis apa pertimbangan Pak Jusuf. Saya juga tidak tanya kenapa saya yang diminta. Mungkin tidak sopan saya kalau ngomong begitu,'' ucap demonstran di akhir 1970-an ini. Rabu (2/5) malam lalu, ia menerima Burhanuddin Bella dan M Syakir dari Republika di rumahnya, di kawasan Ciputat, selatan Jakarta.


Apa tugas Anda sekarang sebagai deputi sekretaris wakil presiden?
Saya memang diminta oleh Pak Jusuf Kalla untuk menangani bidang kesra di Sekretariat Wapres. Tidak hanya satu, cakupannya sangat luas, sekitar 65-70 persen dari bidang kerja yang ditangani oleh kantor Wapres. Mulai dari bidang pendidikan, olahraga, kesehatan, tenaga kerja, pemberdayaan perempuan. Itu menurut info staf di sana.

Bagaimana ceritanya Anda menerima tawaran itu?
Saya dipanggil Pak Jusuf Kalla dan beliau mengharapkan saya membantu di kesra itu. Tapi, saya tidak mengatakan ya atau tidak. Cuma, saya mengatakan bahwa saya masih banyak tugas yang selama ini saya jalankan dan masih saya jalankan di waktu yang akan datang. Sejak selesai jabatan rektor UIN, Desember 2006, saya diberi mandat oleh Rektor Prof Komarudin Hidayat untuk mengembangkan pascasarjana dari pascasarjana IAIN menjadi pascasarjana UIN.

Pascasarjana IAIN masih terbatas pada program-program studi agama. Sekarang harus dikembangkan menjadi pascasarjana UIN yang mencakup bidang umum, seperti manajemen, akuntansi, sains teknologi, kedokteran, psikologi, dan sebagainya. Itu mulai saya pegang dari Januari. Dengan pengembangan itu, namanya diubah dari program pascasarjana menjadi sekolah pascasarjana. Kalau program sifatnya sementara, sekolah lebih bersifat akademis. Di luar negeri juga memakai istilah sekolah pascasarjana, bukan program.

Apa komentar Jusuf Kalla setelah Anda jelaskan hal itu?
Itu satu, saya paparkan. `'Itu jalan saja. Tidak apa-apa. Silakan saja kalau mau merangkap.'' Kedua, saya bilang, saya sudah beberapa tahun ini mendapat tugas dari pemerintah mewakili Indonesia di berbagai forum internasional, baik dalam bentuk seminar, konferensi, workshop, maupun di dalam lembaga-lembaga internasional PBB.

Saya bukan hanya mewakili Pemerintah Indonesia, tapi juga mewakili suara Islam. Menjelaskan bagaimana tentang kecocokan Islam dengan demokrasi, bagaimana demokrasi diterima oleh kaum Muslimin, dan sebagainya. Jadi, saya memberikan saran-saran di dalam lembaga itu. Juga saya bilang, dalam beberapa waktu terakhir ini saya sering diundang ke Timur Tengah untuk menjelaskan kenapa kaum Muslimin menerima demokrasi di Indonesia. Apa keistimewaan dan ciri khas dari Islam di Indonesia. Kenapa, misalnya, di Indonesia demokrasi bisa tumbuh. Kenapa di Indonesia bisa muncul apa yang disebut di Timur Tengah Islam wasathiah, yaitu Islam jalan tengah (moderat). Saya diminta menjelaskan itu, baik oleh lembaga pemerintah di Timur Tengah maupun oleh lembaga swasta, seperti pusat-pusat studi.

Saya jelaskan tugas-tugas selama ini, masalah yang saya hadapi. Kata Pak Jusuf Kalla, `'Ya silakan saja, tidak apa-apa.'' ''Kalau begitu, saya tidak bisa bilang ya atau tidak atas rencana bapak memberikan tugas kepada saya. Bapak kan lebih tahu kemampuan saya, Bapak yang tahu selama ini kiprah saya. Saya Bapak kenal saya atau saya kenal Bapak bukan baru, terserah Bapaklah, pertimbangan yang terbaik.

Saya jelas tidak punya pengalaman di dalam birokrasi yang seperti itu, meskipun dalam birokrasi di kampus saya sembilan tahun menjadi rektor. Tapi, kan birokrasi di kampus beda dengan birokrasi di lembaga seperti itu. Apalagi Sekretariat Wakil Presiden ini beda dengan departemen, karena bau-bau politisnya juga tinggi, lebih tinggi dari departemen, karena posisi wakil presiden itu sendiri adalah posisi yang politik.'' Itu yang saya jelaskan. Saya bilang, ''Silakan saja ambil keputusan yang terbaik, terserah Bapaklah.'' Itu jawaban saya. Saya tidak bilang ya atau tidak. Ternyata keputusannya, menurut Pak Jusuf, saya lebih baik masuk ke dalam.

Di forum-forum internasional itu, bagaimana Anda menjelaskan soal Islam di Indonesia?
Istilah yang lebih cenderung saya gunakan ialah istilah yang ada di Timur Tengah, yaitu Islam wasathiah. Itulah yang digunakan oleh mitra saya yang ada di Timur Tengah untuk menyebut Islam di Indonesia. Islam wasathiah itu bukan saya yang bikin. Menurut saya, itulah yang pas.

Islam jalan tengah itu berarti tidak ekstrim kiri, tidak ekstrim kanan. Saya kira Islam jalan tengah ini memang dominan di Indonesia, Islam yang mainstream. Arus utama Islam di Indonesia itu ialah Islam wassatiah. Meskipun juga ada kelompok-kelompok yang pemahaman keagamaannya mungkin terlalu harfiah, kadang-kadang juga pemahaman harfiah itu dipaksakan kepada kelompok yang lain. Tapi, itu bisa disebut sebagai gejala sempalan saja, bukan femonena yang dominan di Indonesia. Secara umum, Islam yang dominan di Indonesia, ya Islam wasathiah itu, yang diwakili oleh organisasi seperti NU, Muhammadiyah, dan lain sebagainya.

Saya kebetulan menjadi ketua Kelompok Penasihat Islam Inggris dan Indonesia yang dibentuk Presiden SBY dan PM Tony Blair. Orang Muslim Inggris sangat tertarik dengan apa yang berkembang di Indonesia. Misalnya, mereka ingin bagaimana wanita-wanita Muslim bisa aktif di masjid dalam berbagai kegiatan. Di kita kan tidak baru. Sudah ada majelis taklim. Mereka ingin tahu cara mengembangkan majelis taklim. Mereka ingin belajar seni bela diri yang islami. Di Indonesia sudah ada itu. Timur Tengah juga mulai begitu. Mulai melirik. Tahun lalu saya diundang ke sebuah konferensi besar di Mesir. Tajuk konferensi itu, apa yang bisa dipelajari orang-orang Arab Muslim dari orang-orang non-Arab Muslim. Indonesia dalam bidang kehidupan sosial. Dalam bidang ekonomi mereka mengundang Malaysia.

Apa tanggapan mereka setelah Anda menjelaskan dalam konferensi itu?
Mereka sangat mengapresiasi, karena mereka tidak punya pengalaman dengan organisasi besar semacam NU dan Muhammadiyah. Mereka tidak punya pengalaman, misalnya dengan pesantren dan madrasah. Di Timur Tengah tidak ada madrasah. Yang ada sekolah umum, karena pakai Bahasa Arab, ya madrasah. Itu madrasah, sekolah umum. Itu kekayaan Islam Indonesia yang jarang kita sendiri menyadari.

Tidak ada di dunia ini, di Timur Tengah mana pun, yang ada jaringan perguruan tinggi Islam negeri maupun swasta sebanyak di Indonesia. Saya sudah keliling Timur Tengah, tidak ada. Bayangkan, perguruan tinggi Islam negeri saja (di Indonesia) ada enam UIN, 15 IAIN, ada 30 STAIN. Itu yang kurang kita sadari dan kadang-kadang sebagian kita tidak merasa bersyukur dengan itu. Selalu saja merasa terkebelakang, tertinggal dibandingkan dengan kaum Muslimin yang lain. Padahal, sesungguhnya, orang Islam di Indonesia boleh bangga. Kebanggaan itulah yang perlu kita tanamkan, tanpa harus takabur, tanpa harus sombong.

Saat Anda menjadi rektor, IAIN berubah menjadi UIN. Bagaimana ceritanya?
Pertama saya memang diberi mandat oleh rektor sebelumnya, Quraisy Shihab untuk mengembangkan IAIN menjadi UIN. Saya direkrut menjadi pembantu rektor pada 1997 untuk mempersiapkan konsep perubahan itu. Ide dasarnya yang kemudian saya rumuskan bahwa orang Islam harus ahli dalam dua bidang ilmu. Pertama ilmu yang bersumber dari ayat-ayat Alquran. Itulah yang memunculkan ilmu-ilmu yang kita sebut sebagai ilmu agama. Tapi, ayat-ayat Allah itu ada dua macam.

Ada ayat-ayat Qurania, juga ada ayat-ayat Qaunia, ayat-ayat tentang alam. Orang Islam tidak cukup hanya ahli dalam ayat-ayat Alquran, tapi juga harus ahli dalam ayat-ayat Quania. Barulah orang Islam selain ada yang ahli dalam bidang fikih, syariah, tasawuf, tapi juga perlu orang yang ahli dalam kedokteran, komunikasi, psikologi, dan macam-macam. Sesungguhnya semua ilmu itu adalah ilmu Islam, karena bersumber dari kedua ayat tadi, ayat Alquran dan ayat Quania. Itu gagasannya. Makanya, itu diusahakan sejak saya jadi rektor, Oktober 1998, dan berkat bantuan kawan-kawan, maka 20 Mei 2002 IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta resmi menjadi UIN Syarif Hidatullah Jakarta, melalui Keppres Presiden Megawati.

Sewaktu mahasiswa, Azyumardi kuliah di IAIN Jakarta yang kini menjadi UIN ini. Ia menjelaskan, UIN terus berkembang menjadi universitas unggulan. Fakultas Kedokteran (FK) UIN merupakan FK terbaik kedua setelah FK Universitas Indonesia. Pada SPMB 2006/2007 UIN Jakarta menduduki peringkat ke-4 terbaik yang paling kompetitif di bidang IPA.

Saat mahasiswa, ia tergabung dalam barisan demonstran pada 1978. Ia menentang masuknya aliran kepercayaan dan macam-macam kebijakan pemerintah Orde Baru yang tidak kondesif, misalnya, kebijakan normalisasi kampus. ''Saya termasuk pemimpin demo dulu. Kemudian saya dikejar-kejar tentara dan polisi. Saya sampai wajib lapor. Saya kemudian jatuh sakit karena stres dikejar-kejar, sampai saya dirawat di RSCM beberapa lama. Setelah sembuh, saya wajib lapor ke PM yang ada di Guntur, dua kali seminggu selama beberapa bulan,'' tutur Azyumardi.

Lulus kuliah pada 1983, kemudian mendaftar sebagai peneliti di LIPI, tapi kemudian keluar. ''Saya keluar karena suasananya tidak kondusif, tidak cocok dengan kecenderungan intelektual saya,'' ujar dia Rektor IAIN waktu itu, Prof Harun Nasution, kemudian menawarinya menjadi dosen, dan mulai mengajar pada 1985.

Di Indonesia, ada yang menilai pemikiran Anda cenderung liberal. Komentar Anda?
Memang saya juga mendengar bahwa saya disebut sebagai orang liberal. Dan, saya sering juga menjelaskan posisi saya. Yang pertama, istilah liberal itu sendiri menimbulkan masalah. Bukan hanya di Indonesia, di Amerika saja orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai kelompok liberal atau disebut oleh orang lain sebagai liberal, itu adalah kelompok yang pengertiannya negatif. Apalagi dalam konteks di Indonesia. Dari penggunaan istilah liberal sendiri menimbulkan masalah. Dan, saya sudah sampaikan juga kepada Jaringan Islam Liberal (JIL) bahwa penggunaan istilah liberal itu problematik.

Kedua, saya juga banyak berbeda dengan kawan-kawan JIL itu. Misalnya, bagi saya ada prinsip-prinsip yang sudah absolut di dalam Islam yang harus kita terima dan tidak perlu kita persoalkan lagi. Di dalam Alquran itu kan ada dua macam kategorisasi ayat. Ada yang sudah jelas hukumnya, sudah pasti, yang tidak memerlukan lagi intervensi akal, tapi juga ada ada ayat-ayat yang bisa kita tafsirkan secara terus-menerus sesuai dengan kebutuhan kita. Misalnya dalam bidang sosial, dalam kehidupan ekonomi, pendidikan, politik, sosial budaya, dan lain sebagainya. Di situ bisa kita kembangkan pemikiran kita.

Tidak keberatan dengan anggapan itu?
Saya keberatan kalau disebut pemikiran saya liberal. Saya mungkin lebih cenderung menggunakan istilah progresif, Islam yang progresif, Islam yang berorientasi ke masa depan. Islam yang terbuka untuk kemajuan zaman, terbuka untuk sains teknologi, terbuka untuk pemikiran yang rasional tanpa harus mengenyampingkan hal-hal yang bersifat emosional. Saya menekankan hal-hal yang normatif juga di dalam Islam. Misalnya, kalau di dalam ketentuan fikih shalat itu wajib, maka itu wajib bagi saya. Jadi, saya tidak mempersoalkan itu lagi.

Apa yang mendasari kecenderungan itu?
Saya kira, itu mungkin lebih karena kecenderungan pribadi, kecenderungan intelektual, dan kecenderungan emosional. Mungkin juga karena dipengaruhi oleh objek kajian saya tentang ulama. Pemikiran ulama, tradisi ulama, jaringan ulama, dan sebagainya, sehingga saya kemudian bisa lebih mengapresiasi pemikiran-pemikiran ulama, tradisi ulama. Misalnya, saya sangat menekankan pentingnya tasawuf. Tadi saya katakan kita perlu berpikir rasional. Tapi, saya juga sangat menekankan pentingnya tasawuf, karena saya melihat tasawuf itu salah satu sisi dari dua sisi Islam.

Sisi pertama syariah, fikih, kedua tasawuf. Keislaman kita akan lebih sempurna kalau misalnya keduanya kita padukan, antara aspek fikihnya dan aspek tasawufnya. Kalau kita hanya menekankan satu sisi, misalnya sisi fikihnya saja, maka keberagamaan kita menjadi cenderung legalistik. Kalau legalistik menjadi kering.

Karena itulah diperlukan pemahaman keagamaan, pengalaman keislaman yang juga bersifat sufistik. Karena itu saya sangat mengapresiasi, misalnya zikir yang lama, yang membuat kita merasa dekat kepada Allah. Kalau kita hanya berpikir rasional, mungkin zikir tidak begitu penting. Jadi, harus ada pemaduan. Itu alasan saya, karena kecenderungan saya dan juga keilmuannya. Bidang studi saya pemikiran sejarah intelektual ulama. Jadi, saya bisa mengapresiasi, memahami kecenderungan-kecenderungan intelektual pemikiran para ulama.

Apa impian Anda ke depan?
Pertama, saya ingin kembali menekuni proyek saya yang lama tertentu, yaitu penelitian dan penulisan jaringan ulama jilid 2. Itu saya sebut proyek keilmuan, tugas keilmuan. Kan saya sudah menulis jaringan ulama abad XVII-XVIII. Saya sudah mengumpulkan sebagian bahan jaringan ulama abad XIX-XX. Saya ingin meneruskan itu. Jadi, itu menjadi proyek seumur hidup.

Kedua, keinginan-keinginan saya masa depan, mengajar di luar negeri. Saya sudah diminta mengajar di beberapa tempat, di Australia, Amerika, dan Eropa. Kemarin-kemarin sempat saya sanggupi, saya merencanakan 2008. Tapi, dengan sekarang ini, tugas di kantor Wapres, saya kira tertunda. Tapi, saya berharap akan kembali ke situ dalam waktu tidak terlalu lama.

Apa yang ingin dicapai dengan membuat tulisan jaringan ulama?
Bagi saya, kepuasan. Kedua, merupakan kontribusi agar orang Indonesia Muslim sendiri lebih bisa mengapresiasi bahwa sesungguhnya kaum ulama Indonesia bukan orang yang terbelakang. Mereka orang-orang yang hebat, orang-orang yang punya tradisi keilmuan yang hebat, dikagumi banyak orang luar.

Nama: Prof Dr Azyumardi Azra MA
Lahir: Lubuk Alung, Sumatera Barat, 4 Maret 1955
Agama: Islam
Istri: Ipah Fariha
Anak: 1. Raushanfikri Usada
2. Firman El-Amny Azra
3. Muhammad Subhan Azra
4. Emily Sakina Azra

 
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB